TRENDING

Lima Bulan Dilanda Krisis Air Bersih, Ratusan Warga Desa Kadu Ela Bertahan dalam Kehausan, Bantuan 8.000 Liter Belum Mampu Menjawab Kebutuhan

RILISNUSA - PANDEGLANG,Kemarau panjang kembali menghadirkan penderitaan bagi warga Desa Kadu Ela, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Selama hampir lima bulan terakhir, ratusan kepala keluarga harus berjuang mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Air yang seharusnya menjadi kebutuhan paling mendasar, kini berubah menjadi barang yang sangat sulit diperoleh.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan tersebut, secercah harapan datang dari kolaborasi Mahasiswa KKN Kelompok 33 Kampus WIN Banten bersama Organisasi Pemuda Terdampak. Mereka menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki berkapasitas 8.000 liter kepada warga pada Jumat (31/7/2026).

Bantuan tersebut disambut penuh rasa syukur oleh masyarakat. Namun di balik rasa terima kasih itu, tersimpan kenyataan pahit bahwa volume air yang dibagikan masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga yang terdampak.

Kepala Dusun Desa Kadu Ela, Ahmad Jahiri, mengatakan bantuan air bersih tersebut hanya mampu menjangkau sebagian kecil masyarakat.

"Bantuan air bersih sebanyak 8.000 liter hanya bisa dibagikan kepada warga di tiga RT dan itu pun belum semuanya kebagian secara merata. Paling sekitar 35 kepala keluarga yang menerima. Padahal warga sudah mengalami darurat air bersih selama hampir lima bulan akibat kemarau," ujarnya.

Ketua KKN 33 WIN Banten, Agung Wiguna, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang sedang menghadapi krisis air bersih. Penyaluran bantuan dilakukan melalui kolaborasi dengan Organisasi Pemuda Terdampak sebagai wujud semangat gotong royong dan solidaritas sosial.

Hal senada disampaikan Mupak, warga setempat, yang mengapresiasi gerakan kemanusiaan tersebut. Menurutnya, bantuan itu sangat berarti bagi warga meski belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Desa Kadu Ela yang akrab disapa Aang menjelaskan bahwa persoalan kekurangan air bersih bukanlah masalah baru. Hampir setiap musim kemarau, masyarakat selalu menghadapi kondisi serupa.

Menurutnya, sumber air sebenarnya sudah tersedia di wilayah Kampung Kadu Baro. Jaringan pipa sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer bahkan telah terpasang melalui bantuan hibah dari salah seorang warga. Namun hingga kini air belum dapat dialirkan ke permukiman karena keterbatasan sarana pendukung.

"Kami masih membutuhkan sedikitnya tiga unit mesin sibel berkekuatan 2 hingga 2,5 PK agar air bisa dipompa ke permukiman warga. Saat ini baru tersedia satu unit. Selain itu, biaya penambahan daya listrik juga belum mampu dipenuhi karena keterbatasan anggaran yang di hasilkan dari swadaya masyarakat," ungkap Aang saat ditemui di Kantor Desa Kadu Ela.

Kepala Desa Kadu Ela, Madrasad, menyebutkan sebanyak sekitar 1.800 jiwa atau 430 kepala keluarga terdampak krisis air bersih. Menurutnya, kondisi tersebut terus berulang setiap tahun karena debit mata air di kawasan pegunungan terus menurun.

"Diduga berkurangnya tutupan hutan menyebabkan kemampuan tanah menyerap air semakin menurun. Akibatnya, sumber-sumber mata air yang selama ini menjadi harapan masyarakat ikut mengecil bahkan mengering saat musim kemarau," jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat bersama para tokoh desa telah berupaya mencari solusi secara mandiri dengan menggalang dana swadaya untuk membangun dua bak penampungan air. Kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai sekitar Rp40 juta, namun hingga kini dana yang berhasil terkumpul baru sekitar Rp17 juta sehingga pembangunan belum dapat diselesaikan secara maksimal.

"Kami sangat berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Pemerintah Provinsi Banten, instansi terkait, dunia usaha, organisasi sosial, maupun para relawan kemanusiaan untuk membantu masyarakat kami. Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar. Jangan sampai warga harus terus hidup dalam kehausan setiap musim kemarau datang," harap Madrasad.

Kondisi yang dialami masyarakat Desa Kadu Ela menjadi potret nyata masih adanya wilayah yang berjuang mendapatkan hak dasar berupa air bersih. Di saat sebagian masyarakat dapat menikmati air dengan mudah, warga di desa ini harus rela mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa jeriken air demi memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan mandi.

Bantuan air bersih yang datang tentu menjadi penyambung harapan. Namun bantuan sesaat belum mampu menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Dibutuhkan solusi permanen melalui pembangunan sarana air bersih yang memadai agar masyarakat tidak lagi menjadi korban kemarau yang terus berulang.

Kini harapan ribuan warga Desa Kadu Ela tertuju kepada pemerintah dan seluruh pihak yang memiliki kepedulian. Mereka tidak meminta kemewahan, melainkan hanya berharap air bersih dapat mengalir ke rumah-rumah mereka, sehingga anak-anak, orang tua, dan seluruh masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak dan bermartabat.**

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image